Dalam esensi gaya hidup modern yang mendambakan ketenangan, praktik declutter ala Japandi menawarkan lebih dari sekadar metode merapikan rumah; ia adalah sebuah pendekatan filosofis untuk menciptakan ruang bagi kedamaian mental dan visual. Berakar pada perpaduan antara fungsionalitas Skandinavia dan minimalisme Jepang, proses ini bukanlah tentang mengosongkan rumah secara drastis, melainkan tentang sebuah kurasi yang disengaja. Ini adalah seni memilih untuk hidup hanya dengan barang-barang yang fungsional, indah, atau memiliki makna sentimental yang mendalam. Berbeda dari sekadar membersihkan atau menata ulang, decluttering dalam konteks Japandi adalah sebuah latihan dalam mindfulness, di mana kita secara sadar mengevaluasi kembali hubungan kita dengan setiap benda yang kita miliki. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah sanctuary yang tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga jernih secara visual dan emosional, sebuah ruang yang benar-benar mendukung ketenangan.
Dasar dari pendekatan ini terletak pada dua pilar filosofis yang kuat. Dari sisi Jepang, kita meminjam konsep Ma (間), yaitu kesadaran akan pentingnya ruang negatif atau kekosongan. Dalam estetika Jepang, ruang kosong di antara objek sama pentingnya dengan objek itu sendiri; ia memberikan ruang bagi mata dan pikiran untuk beristirahat. Selain itu, ada filosofi wabi-sabi yang mengajarkan untuk menghargai kualitas dan keaslian di atas kuantitas. Ini mendorong kita untuk lebih memilih satu kursi kayu buatan tangan yang akan menua dengan indah daripada lima kursi produksi massal yang tidak memiliki karakter. Dari sisi Skandinavia, kita mengadopsi konsep hygge, yaitu perasaan nyaman dan puas. Ruangan yang penuh sesak dengan barang-barang yang tidak perlu adalah antitesis dari hygge; ia menciptakan stres visual dan mental. Dengan demikian, mengurangi kekacauan adalah langkah pertama untuk menciptakan atmosfer yang hangat dan mengundang di mana kita bisa benar-benar rileks.
Proses penyortiran dalam gaya Japandi seringkali sejalan dengan metode yang dipopulerkan oleh Marie Kondo, yang juga berakar kuat pada budaya Jepang. Pendekatan ini dimulai dengan mengumpulkan semua barang dalam satu kategori—misalnya, semua pakaian, semua buku, atau semua peralatan dapur—di satu tempat. Langkah ini memaksa kita untuk menghadapi volume sebenarnya dari barang yang kita miliki. Pertanyaan kunci yang diajukan oleh Kondo, “Apakah ini memicu kegembiraan?” (does it spark joy?), menjadi filter pertama yang sangat efektif. Namun, declutter ala Japandi menambahkan dua lapisan pertanyaan lagi: “Apakah ini benar-benar fungsional?” dan “Apakah ini indah dalam kesederhanaannya?”. Sebuah barang mungkin memicu kegembiraan sesaat, tetapi jika tidak memiliki fungsi yang jelas atau tidak selaras dengan estetika yang tenang, mungkin sudah waktunya untuk melepaskannya. Proses ini bisa dipelajari lebih dalam dari berbagai sumber, termasuk situs resmi KonMari yang menjelaskan metode ini secara detail.
Setelah proses penyortiran yang penuh kesadaran selesai, langkah selanjutnya adalah seni penyimpanan yang penuh intensi. Decluttering tidak akan bertahan lama jika barang-barang yang tersisa tidak memiliki “rumah” yang jelas. Gaya Japandi sangat mengutamakan penyimpanan tertutup (closed storage) untuk menyembunyikan kekacauan visual. Pilihlah lemari, kabinet, atau credenza dengan pintu tanpa gagang (handle-less) untuk menciptakan tampilan yang mulus dan bersih. Gunakan keranjang-keranjang dari material alami seperti rotan atau anyaman pandan di dalam lemari untuk mengelompokkan barang-barang kecil. Permukaan meja dan lantai harus dijaga sebersih mungkin. Rak terbuka (open shelving) sebaiknya digunakan secara minimalis, hanya untuk memajang beberapa objek pilihan yang benar-benar indah atau bermakna—sebuah vas keramik, beberapa buku favorit, atau sebuah tanaman kecil. Tujuannya adalah untuk menciptakan ketenangan visual di mana pun mata memandang.
Penting untuk diingat bahwa decluttering bukanlah proyek satu kali, melainkan sebuah komitmen gaya hidup. Untuk mempertahankan ketenangan yang telah Anda ciptakan, praktikkan konsumsi yang sadar. Sebelum membawa barang baru ke dalam rumah, tanyakan pada diri sendiri apakah Anda benar-benar membutuhkannya dan apakah barang tersebut akan menambah nilai pada hidup Anda. Terapkan aturan “satu masuk, satu keluar” untuk menjaga agar jumlah barang tetap terkendali. Selain itu, ciptakan ritual harian atau mingguan yang sederhana, seperti merapikan rumah selama 10 menit setiap malam sebelum tidur. Namun, jangan lupakan prinsip wabi-sabi: tujuannya bukanlah menciptakan ruang steril seperti museum. Sebuah rumah yang ditinggali akan selalu memiliki sedikit “kekacauan yang terkendali”, dan itulah yang membuatnya terasa hidup dan otentik.
Pada akhirnya, proses ini adalah tentang reklamasi ruang—baik fisik maupun mental. Dengan secara sadar memilih apa yang boleh tinggal di dalam rumah kita, kita menciptakan sebuah lingkungan yang tidak hanya mencerminkan aspirasi desain kita, tetapi juga mendukung kesejahteraan kita. Ruangan yang bernapas memungkinkan pikiran untuk bernapas. Mengurangi barang berarti menambah ruang untuk berpikir, berkreasi, dan sekadar ‘ada’. Menciptakan sebuah sanctuary pribadi yang damai, di mana setiap objek memiliki tujuan dan tempatnya, adalah hasil akhir dari proses declutter ala Japandi.